Mimpi Gadis Kecil Menjadi Tamu Allah

Mimpi Gadis Kecil Menjadi Tamu Allah

“Masih kuat nak?” Tanyaku hampir tepat di telinganya.

“Masih bi…” Jawabnya walau peluh membanjiri hingga kerudung putih yang kusut karena tertarik-tarik.

“Kamu memang anak yang hebat, ayo bersihkan hati, luruskan niat..” Ku cium kepala gadis kecilku memberinya semangat. Ku peluk dari belakang sambil sesekali menyibak orang-orang tinggi besar kiri kanan, bahkan depan dan belakang. Mencari jalan. Ya, ribuan orang rela berdesakan demi bisa mencium batu Syurga Hajar Aswad seperti Rasulullah SAW dulu pernah lakukan.

Aku masih sangat mengingatnya ketika gadis kecil itu kudapati menciumi kopiah hitamku yang sudah sedikit lusuh.

” Kunaon kopiah abi osok diciuman wae ?” Tanyaku kala itu.

“Ya bi, lagi ngebayangin cium Hajar Aswad” Sedikit gugup dia menjawab, kaget tak menyangka jika ada yang memergoki apa yang dia lakukan.

“MasyaAllah anakku, sekecil ini sudah punya mimpi besar, semoga Allah kabulkan,” hati ini tergetar.

Shidqiyya Amalia, nama indah itu ku berikan untuknya. Satu-satunya perempuan diantara empat bersaudara keluarga kecil kami. Namun siapa sangka, sejak kecil dia sudah menjadi seorang anak yang gigih menggapai mimpi. Selalu ada ide cemerlang di kepalanya, tubuh mungilnya gesit kesana kemari mengejar apa yang dia ingini.

“Umi, ini tabungan Qiqi, tolong nitip ya, jika nanti sudah cukup, Qiqi mau ikut umroh bersama umi dan abi.” Sambil menyerahkan setumpuk uang dengan nominal cukup besar.

“Uang siapa, darimana uang sebanyak ini?” Istriku saat itu tak bisa menyembunyikan wajah kagetnya. Dia gagal menutupi rasa khawatir dari mana uang itu didapatkan. Mengingat uang saku yang diberikan untuk putri kami hanya lima ribu rupiah setiap harinya.

“Itu uang Qiqi, selain puasa jajan Qiqi juga jualan apa saja di sekolah. Pulpen, pensil, buku, mainan, gantungan kunci, banyak… Apa saja” Matanya menatap tajam seakan ingin meyakinkan.

“Umi tanya saja teman-teman di sekolah” Tambahnya sambil bergelayut manja.

Aku terpekur, sontak dalam hati mengucap syukur. Sementara istriku memeluk buah hati kami dengan erat, kulihat butiran bening mengalir di matanya.

“Ya berarti harus nunggu beberapa tahun lagi atuh agar tabungan nya cukup untuk biaya umroh.” Aku kembali mencairkan suasana.

“InsyaAllah Qiqi akan sabar untuk nabung lagi, tapi…jika kurangnya tinggal sedikit tolong abi ditambahin ya…” bisik Qiqi di telingaku.

Aku hanya tersenyum.

Dan hari itu, 5 tahun kemudian…

Pesawat yang membawanya terbang telah membuat senyumnya mengembang. Mimpi seorang gadis kecil yang tak lelah berjuang. Disaat teman-teman seusianya senang jajan, dia tahan. Disaat teman-teman seusianya asyik bermain,  dia malah terfikir untuk berjualan.

Terimakasih ya Allah, jadikan putra-putri kami sebagai Qurrata A’yun

“Robbanaa haablana min Azwaajina wa dzurriyyatina qurrata a’yunin waj’alnaa lil muttaqina imaama”

Kumpulkan kami di Surga-Mu nanti bersama kekasih hati baginda Rasulullah SAW.

 

Note : “Kenapa kopiah abi suka diciumin saja?”

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *