Aku Tak Sebaik Bunda Hajar

Aku Tak Sebaik Bunda Hajar

“Suamiku pelit…” Aku membatin ketika menerima uang darinya untuk pertama kali.

“Ini untuk adik, ini untuk mas, sisanya kita tabung walau sedikit.” Waktu itu aku diam saja biar dianggap qanaah dan istri sholehah.

Terlebih ketika dia tidak setuju aku bagi-bagi angpau lebaran sama anak-anak kecil. Menurutnya itu tradisi yang kurang mendidik. Memberi hadiah saja pada orang tuanya, itu lebih baik. Lagi-lagi aku turuti walau menggerutu dalam hati.

“Suamiku ngirit…” Aku mulai menerka-nerka ketika pengantin baru aku diajaknya mudik naik bis ekonomi. Alasannya sih ga kuat AC karena lagi sakit. Padahal debu dan asap rokok sama saja ganggu pernafasan bukan.

Terlebih ketika pindahan ke desa tempat aku bekerja, dia maksa ngeteng naik angkot saja. Bawa kompor, panci, penggorengan merepotkan. Padahal saat itu nenek menawarkan mobilnya sekaligus ingin ikut mengantarkan. Aku cuma menghela nafas panjang, duh, sabar…

“Suamiku terlalu…” Ketika dia memilih sehelai kasur tipis untuk kami berdua. Walau dengan alasan takut terlalu nyenyak dan malu sama Rasulullah SAW yang tidurnya hanya beralas pelepah kurma sampai membekas di pinggangnya. Aku menurut saja walau sebenarnya aku juga malu sama keluarga dan tetangga, bu bidan dan tukang insinyur kok hidupnya susah.

“Suamiku belagu…” Ketika tahun pertama menikah dia sudah ngajak kurban pas idul adha. Kontrakan saja nyicil bulanan. Belum mikir makan dan biaya adik-adik sekolah. Lah…korban perasaan iya.

Kali ini aku angkat bicara, “kurbannya lain kali saja, kita belum mampu.”

“Kita latihan dik, semampunya,” dia bersikukuh. Jadilah kurban pertama kami kambing ‘anaknya’. Walau malu sama panitia masjid, dia membesarkan hati.

Tahun besok InsyaAllah kita kurban yang lebih besar “

“Kalau kurban ini tidak sah karena terlalu kecil?” Tanyaku khawatir.

“Anggap saja sedekah daging.” Jawabnya sambil nyengir.

Aku diam…, kali ini memuji diam-diam.

Jadi mengingat percakapan pertama setelah khitbah.

“Kalau jadi istriku nanti, mau tidak aku ajak ke Mekkah?”

Hati siapa yang tidak berbunga-bunga.

Aku tersenyum memilih tidak menjawab. Laki-laki ini kalau dibilang orang kaya penampilannya biasa saja. Kalau dibilang tukang bohong dia aktivis dakwah. Jangan-jangan habis nikah dia mau jadi TKI di Mekkah sana. Ealah…?

Dia masih yang sama. Makannya sederhana, asal ada sayuran dan lalapan apalagi ditemani istri tercinta sudah nikmat luar biasa, katanya.

Yang dipakai juga seperlunya. Pernah ku hadiahkan sepatu yang lumayan mahal menurutku, ternyata dia tak begitu suka. Ah, mending aku belikan sepatu booth saja ya yang murah meriah. Dan yang pasti cari nomornya juga mudah.?

Beberapa kali aku merayu biar mudik ngga nge-bis saja, dia hanya tersenyum. “Sabar ya, nanti sepulang haji baru kita nabung untuk beli mobil.”

“Haji kan lama nunggunya…,” rungutku manja.

“Yang penting sudah daftar, terserah Allah  panggil kita kapan,” selalu itu jawabnya.

Dan serasa tak percaya ketika cita-cita itu Allah takdirkan nyata. MasyaAllah, Alhamdulillah…

Labaikallahumma labaik… labaika laa  syarika laka labaik

Keinginan kuat, memilih aulawiyat, itu yang dia ajarkan padaku. Tak mengapa kita berjuang lebih berat, meninggalkan kesenangan apalagi jika hanya sekadar untuk terlihat hebat. Ada yang lebih nikmat. Ketika semua ditujukan untuk menggapai taat. Meraih ridha sang pemberi selamat.

Aku memang tak sebaik bunda Hajar, maaf…

ESA Mardiah (Jamaah SYIAR Travel group 5 April 2018)

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *