Tukang Kopi Pergi Haji

Tukang Kopi Pergi Haji

Labbaik Allahumma labbaik. Labbaika la syarikalaka labbaik ….”

Ratusan ribu manusia melafalkan kalimat talbiah, mengelilingi rumah Allah dalam prosesi thawaf di Baitullah.

Dasril, mukmin Indonesia yang terselip di antara lautan manusia dari berbagai negara itu, tidak kuasa menahan tangisnya. Dia merinding mendengar gelora kalimat talbiah yang menggema di lembah Kota Mekah. Dia gentar menyaksikan dari dekat Ka’bah yang selama ini menjadi kiblat shalat umat islam sedunia. Dia tidak percaya dirinya bisa berada di Tanah Suci.

Namun, tiba-tiba Dasril merasa sudah berada di Indonesia kembali. Tepatnya di Padang, lebih tepat lagi di depan pesawat televisi tetangganya. Oh, ternyata Dasril tadi bermimpi.

Sambil menguap, lalu mengucek-ucek matanya, Dasril teringat tadi dia tiba-tiba ingin sekali nonton televisi. Maka dari itu, dia keluar rumah dan nonton televisi di rumah tetangganya. Bukan lantaran malas nonton sendirian di rumahnya, juga bukan karena televisi di rumahnya jelek, melainkan Dasril memang tidak punya yang namanya pesawat televisi.
Nah, begitu duduk bersandar di depan televisi tetanga, ternyata sedang ditayangkan liputan ibadah haji. Di layar, tampak lautan manusia tengah mengitari Ka’bah dalam prosesi thawaf di Masjidil Haram.

“Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah,” Dasril bagai tersihir melihatnya. Matanya tidak berkedip menatap layar televisi. Ingin benar dia menjadi bagian dari lautan manusia itu.

Lama-Iama, mata Dasril sembap. Dia tahu diri, sebagai pedagang kopi eceran, ke Baitullah baginya adalah sebuah kemewahan, bahkan mungkin kemustahilan. Dasril tertunduk lunglai. “Ya Allah”, katanya dalam hati, “Kami sadar, kami ini orang paling miskin di sini. Kami tidak punya cukup harta untuk ke Tanah Suci memenuhi panggilan-Mu. Tapi ya Allah, semua terserah pada-Mu”.
Larut dalam kepasrahan, Dasril pun terlelap rupanya. Alam mimpi membawanya ke Tanah Suci yang diidamkan hingga dia terbangun lagi.

Order Tidak Disangka

“Assalamu’alaikum ….” Seseorang beruluk salam ke rumah Dasril.

“Wa’alaikum salaam …,” jawab shahibul bayt.

“Benar ini rumahnya Dasril?

“Betul Pak, saya sendiri. Ada apa ya, Pak?”

“Dasril yang jualan kopi, ya?”

“Betul, Pak.”

“Bisa bantu saya jualin kopi ini?” kata tamunya sambil menunjuk truk berisi kopi yang parkir di depan rumah Dasril.

“Wuih, kayaknya banyak banget, Pak. Berapa kuintal itu, Pak?”

“Tiga ton.”

“Haaah, tiga ton?! Masya Allah, maaf Pak, banyak banget, saya nggak sanggup kulakan kopi sebanyak ini. Saya hanya biasa jual kiloan. Kalau tiga ton, saya uang dari mana?” Dasril kalang kabut.

“Lho, siapa yang nyuruh beli? Saya kan, mau minta tolong jualin kopi ini ke kota,” ujar si tamu sambil tersenyum.

“Oh, kalau cuma membantu menjualkan sih, saya siap, Pak. Tapi, Bapak kan, nggak kenal saya. Kok, mau nitipin tiga ton kopi?” ujar Dasril dengan wajah tidak bisa menyembunyikan keheranannya.

“Yah, tahulah dari orang. Gimana? Yang penting mau bantu jualin kopi saya ini ke kota, nggak?”

“Okelah, Pak. Saya coba, ya,” Dasril mengalah.

“Harga dari saya segini per kilo. Silakan dijual berapa. Kelebihannya buat situ,” terang tamu asing tersebut.

“Iyalah, Insya Allah.” jawab Dasril.

Dasril memang terkenal dikampungnya. Selain berjual beli kopi eceran, keluarga Dasril populer karena paling miskin sekampung. Namun, keluarga ini dinilai baik oleh tetangganya.

Dari hasil berdagang kopi, Dasril menghidupi dirinya bersama orang tua dan adik-adik yang masih kecil dan bersekolah SD. Walau hasilnya kecil, Dasril merasakan berkah lantaran doa orang tuanya dan rasa terima kasih adik-adiknya yang dia biayai sekolahnya.

Sambil menyimpan penasaran mengenai jati diri mitra bisnisnya, Dasril dengan bersemangat membawa kopi segambreng itu ke kota.

Sesampainya di kota, Dasril kaget dan senang. Ternyata, saat itu harga pasaran kopi tengah meroket hingga empat kali lipat dari harga dasar yang dipatok mitra dagangnya tadi.

Walau ada peluang emas, Dasril tidak mau serakah. Dia lepas tiga ton kopinya dengan harga tiga kali lipat saja dari harga dasarnya. Dagangan Dasril pun langsung ludes dan dia membawa pulang keuntungan 300%.

Sepanjang perjalanan pulang, Dasril tidak henti-hentinya memuji asma Allah saking girangnya atas rezeki yang tidak disangka.

Sesampainya di rumah dan bertemu lagi dengan pemasoknya, Dasril berterus terang mengenai perjalanannya ke kota hingga beroleh keuntungan 300%. Dia pikir, tidak apalah jika mitranya yang misterius dan baik itu menginginkan bagian keuntungan 100%. Toh, laba 200% sudah lebih dari cukup untuk dirinya.

Namun, apa kata mitra Dasril? “Ya sudah, itu keuntunganmu semua” ujarnya kalem, tanpa bermaksud mengutak-atik perjanjian awal mereka.

Jadilah, dengan sebagian laba dadakan penjualan kopi itu, Dasril mendaftarkan diri untuk berangkat ke Tanah Suci tahun 1980.

Yakin Berangkat

Dasril telah mendapatkan rezeki banyak dengan cara yang menakjubkan. Keuntungan jual kopi eceran yang hanya sedikit dan rela digunakan untuk membiayai hidup orang tuanya serta menyekolahkan adik-adiknya, ternyata diganti oleh Allah SWT. dengan rezeki berlimpah berupa keuntungan 300% dari penjualan kopi sebanyak 3 ton. Subhanallah. Bagi Dasril, itu adalah kali pertama mendapat rezeki yang begitu melimpah sehingga keinginannya berangkat haji akan bisa dilaksanakan. Dasril pun bergegas untuk mendaftarkan diri agar bisa menjadi tamu Allah tahun itu juga.

Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1980. Usia Dasril saat itu masih muda. Berangkat haji saat itu tidak sampai menunggu lama, seperti sekarang ini. Dengan membawa uang pendaftaran dan persyaratan, Dasril pun menemui petugas pendaftaran haji.

“Pak, saya mau mendaftarkan diri berangkat haji tahun ini”. kata Dasril kepada petugas pendaftar.

“Mohon maaf Pak, pendaftaran haji tahun ini sudah ditutup seminggu yang lalu. Jadi, mohon maaf. untuk pendaftaran haji bisa, tapi untuk tahun depan,” terang petugas. Namun, Dasril ngotot.

“Nggak, Pak, saya maunya berangkat tahun ini juga,” katanya.

“Nggak bisa, Pak, kursi untuk pemberangkatan haji tahun ini sudah penuh, jadi nggak mungkin bisa berangkat tahun ini.”

“Tolonglah, Pak, saya pingiiin banget berangkat haji tahun ini,” rengek Dasril.

“Maaf, Pak, nggak bisa, sudah penuh, Pak”.

“Saya yakin bisa!” sergah Dasril dengan nada bicara mulai naik.

“Nggak bisa, Pak. Kok, Bapak maksa, sih!” si petugas mulai sewot.

“Saya yakin bisa berangkat tahun ini!” Dasril juga ngotot. Dia lalu menjelaskan alasannya mengapa begitu yakin bisa berangkat tahun itu juga.

Kemudian, Dasril mengisahkan pengalamannya mendapatkan rezeki kepada petugas pendaftaran haji. Dasril coba meyakinkan petugas bahwa Allah sudah memberikan rezeki dengan cara seperti ini maka dia yakin Allah akan memberangkatkan haji tahun itu juga.

Petugas haji tampak tertarik mendengarkan cerita Dasril sampai khatam.

“Pak,” akhirnya dia berkata, “ini kursi sudah penuh, gimana saya bisa daftarin Bapak? Apa Bapak mau duduk di sayap? Hehehe ….”.

“Nggak, saya tetep yakin tahun ini berangkat!”

“Waah, Bapak nih, bener-bener maksa, ya. Ya sudah, sini saya daftarin, tapi begini, jika nanti ada jamaah yang mengundurkan diri, nama Bapak akan naik dan bisa berangkat tahun ini. Tapi, jika tidak ada jamaah yang mengundurkan diri, maka mohon maaf, Bapak harus berangkat tahun depan,” paparnya.

“Pokoknya saya yakin Allah berangkatkan saya tahun ini!” tegas Dasril lagi.

Subhanallah, keyakinan Dasril begitu kuat. Semangatnya begitu membara untuk bisa berangkat ke Tanah Suci tahun itu juga. Walaupun kursi sudah penuh, Dasril tetap yakin akan bisa berangkat tahun itu juga.

Setelah proses pendaftaran selesai, Dasril pulang ke rumah. Dia dijanjikan oleh petugas pendaftaran jika ada calon jamaah haji yang mengundurkan diri alias membatalkan diri untuk berangkat haji tahun itu, dia akan diberitahukan dan nama Dasril bisa dicatat sebagai jamaah tahun itu. Namun, jika tidak ada yang mengundurkan diri, Dasril harus ikhlas untuk berangkat tahun berikutnya.

Beberapa hari kemudian, ada pemberitahuan dari petugas pendaftaran haji bahwa ternyata ada salah seorang calon jamaah haji yang mengundurkan diri berangkat haji tahun itu karena suatu alasan. Jadi, nama Dasril pun naik dan atas izin Allah Dasril dinyatakan bisa berangkat tahun itu juga.

“Alhamdulillaaah … Subhanallaaah ….”. Dasril meluapkan kegembiraannya. Keyakinannya untuk bisa berangkat haji tahun itu dikabulkan oleh Allah. Dasril sujud syukur. Berlinang air matanya mengingat kejadian saat Dasril melihat tayangan televisi. Saat itu, siaran yang dilihat adalah thawaf di Masjidil Haram. Ketika itu, dia pun menangis dan merasakan seolah-olah sedang ada di kerumunan orang-orang yang thawaf mengelilingi Ka’bah.

“Hari ini, ya Allah, Engkau sempurnakan niat dan keinginan kami berangkat ke Tanah Suci, berangkat haji. Engkau telah memberi jalan, mempertemukan orang yang menitipkan kopi untuk dijualkan ke kota. Atas izin-Mu, Engkau beri kami keuntungan yang begitu banyak sehingga kami bisa mendaftarkan diri berangkat haji. Pada saat kursi haji sudah penuh, Engkau juga beri kami jalan dengan cara ada seseorang yang mengundurkan diri sehingga Engkau catat nama kami bisa berangkat tahun ini. Terima kasih, ya Allah,” syukur Dasril ditumpahkannya sambil terus memuji asma Allah.

Labbaik Allahumma labbaik, Labbaika la Syari ka laka labbaik,
Innal hamda wan ni’mata. Lakawal Mulk … La Syari kalak ….
Labbaik Allahumma labbaik, Labbaika la Syarika laka labbaik,
Innal hamda wan ni’mata. Lakawal Mulk … La Syari kalak …,

Dasril merasakan semakin dekat dengan Kota Suci Mekah dan Madinah, tinggal menunggu waktu saja untuk berangkat. Semua terjadi atas izin Allah SWT.

Harusnya Dioperasi

Waktu yang sudah ditentukan tiba. Pemberangkatan haji tinggal menunggu hari. Persiapan pun sudah hampir 100%. Perlengkapan yang harus dibawa sudah dirapikan, termasuk dua kain ihram sudah tertata rapi di dalam koper. Dua hari sebelum pemberangkatan, Dasril tersandung batu sehingga kuku jempol salah satu kakinya copot. Luka ini sangat serius sehingga Dasril susah berjalan. Darah dan nanah keluar dari jempol kakinya. Dasril kesakitan, padahal tinggal dua hari lagi berangkat. Sementara itu, berangkat haji harus dalam kondisi yang sehat dan kuat karena perjalanan begitu panjang dan melelahkan.

Dasril bingung dan meminta petunjuk dari Allah. Dia berdoa, “Ya Allah, tinggal dua hari lagi saya dan jamaah haji berangkat ke Tanah Suci-Mu. Namun, Engkau uji aku dengan luka yang begitu serius sehingga susah sekali aku berjalan. Semoga Engkau sembuhkan aku, ya Allah. Amiiin.”

Dasril menemui petugas haji, menyampaikan permasalahan dirinya yang terluka kakinya. Petugas haji menyarankan Dasril untuk segera berobat. Petugas haji pun merekomendasikan untuk mendatangi seorang dokter. Oleh karena waktu sudah mepet sekali, yaitu dua hari lagi berangkat haji, jempol kaki Dasril harus dioperasi. Dokter yang direkomendasikan oleh petugas haji adalah dokter yang biasa menangani bedah dan dikenal bagus dalam pelayanannya. Dasril tidak menyia-nyiakan waktu, Iangsung Dasril menuju tempat praktik dokter tersebut.

“Assalamu’alaikum, ada Pak Dokternya, Mbak?” sapa Dasril.

“Wah, mohon maaf, Pak, Pak Dokter sedang ke luar kota sampai minggu depan.”

Hari itu menjadi hari yang memprihatinkan dan mendebarkan buat Dasril. Tinggal dua hari Iagi, dia harus bertolak ke Tanah Suci, sedangkan kaki Dasril sedang bermasalah dan susah untuk berjalan. Jika dipaksakan berjalan, sakitnya luar biasa. Ikhtiar berobat ke dokter gagal karena dokternya sedang ke luar kota. Lalu, Dasril memanjatkan doa lagi kepada Allah, “Ya Allah, ikhtiar ke dokter sudah aku lakukan, tapi dokternya ke luar kota. Semoga Engkau sembuhkan atas izin-Mu, ya Allah. Amiiin ….”

Dasril pulang ke rumah. Ikhtiar belum selesai. Dasril mengambil kapas dan merebus air. Kemudian, dengan air hangat, luka itu dibersihkan. Darah dan nanah yang keluar dari jempol kakinya itu dibersihkan sendiri sambil terus berharap Allah memberikan kesembuhan.

Secara logika, tidak mungkin luka seserius itu bisa sembuh dalam waktu singkat. Namun, Dasril yakin dengan doanya. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Setelah luka dibersihkan, sakit sekali rasanya karena luka yang begitu serius. Namun, sebagai ikhtiar, luka itu dibersihkan dengan air hangat dan kapas.

Setelah terlihat bersih, azan ashar berkumandang. Dasril mengambil air wudhu. Tetesan air yang pertama mengenai lukanya, Anehnya, percikan air itu tidak membuat lukanya terasa sakit. Seharusnya, luka seperti itu jika terkena air pasti terasa sakit. Dasril pun tidak percaya kalau lukanya sudah tidak sakit lagi. Kemudian, dia pegang luka itu dan ternyata benar-benar tidak sakit lagi. Dasril masih belum percaya juga, diinjaklah jempol kaki yang terluka itu beberapa kali dengan kaki satunya.

Subhanallah, ternyata benar-benar sudah tidak terasa sakit. Masya Allah, Dasril girang bukan main. Luka yang seharusnya akan sembuh jika dioperasi itu, ternyata disembuhkan Allah dengan cara yang sederhana. Semua terjadi atas izin Allah.

“Alhamdulillah, ya Allah, Engkau benar-benar Maha Penyembuh dan Maha Segala-galanya,” Dasril mengucapkan syukur.

Hanya Allah yang bisa mengatur semua ini. Banyak sekali keajaiban yang dialami Dasril menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci. Semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah dan Allah akan memberikannya kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.

Akhirnya, Dasril berangkat haji tahun 1980.

Bernostalgia Dengan Allah

Cerita Dasril itu memang luar biasa. Saya mendapatkan cerita itu, saat berangkat umrah bersamanya tahun 2010 Ialu. Kisah ini didapatkan karena pak Dasril berperilaku aneh saat Umrah.

Pak Dasril selalu terpisah dengan jamaah umrah lainnya. Pada saat berhenti untuk istirahat dalam perjalanan dari Bandara King Abdul Azis ke Madinah, dia sudah memperlihatkan gelalgat aneh. Pada saat jamaah lainnya sudah selesai dan masuk kembali ke bus, Pak Dasril menghilang. Setelah ditunggu beberapa saat, dia baru muncul lalu masuk ke bus paling akhir. Saat itu, Pak Dasril berangkat umrah bersama istrinya. Di berbagai aktivitas, lagi-lagi Pak Dasril menghilang dan setelah dicari dan ditemukan, baru kemudian dia bergabung lagi.

Puncaknya saat seluruh jamaah akan melaksanakan umrah. Seluruh jamaah sudah siap memasuki Masjidil haram untuk melaksanakan thawaf, sa’i, dan tahallul. Namun, rasanya ada yang ganjil lagi. Ternyata, Pak Dasril tidak kelihatan. Semua jamaah celingak-celinguk mencari keberadaan Pak Dasril. Ditunggu beberapa saat pun tetap tidak terlihat batang hidungnya. Lalu, pembimbing dan jamaah sepakat untuk meninggalkannya dengan keyakinan Pak Dasril sudah berpengalaman. Jadi, Insya Allah, akan bisa melakukannya tanpa bimbingan petugas.

Rombongan melaksanakan umrah bersama-sama. Sampai akhirnya, semua selesai. Kami masih berikhtiar menunggu Pak Dasril. Mungkin saja bisa ditemukan.Ternyata, sampai jelang shalat subuh, Pak Dasril belum juga kelihatan. Sebagai pembimbing, kami mulai panik. Ke mana kira-kira Pak Dasril berada ?

Usai sholat shubuh, kami dan seluruh jamaah kembali ke hotel untuk istirahat sejenak sambil menunggu waktu menjelang sholat zhuhur. Kemudian, para jamaah bergegas berangkat lagi ke Masjidil haram. Ada juga yang sejak waktu dhuha sudah ada di masjid karena sayang melewatkan shalat di Masjidil haram yang pahalanya seratus ribu kali lipat dibandingkan shalat di masjid lainnya kecuali di Masjid Nabawi (seribu kali lipat dibandingkan masjid lainnya).

Kami cek keberadaan Pak Dasril melalui telepon hotel. Beberapa kali kami menelepon, belum ada yang menjawab dari kamar hotelnya. Setelah sekian kali, ternyata ada yang menjawab.

“Assalamualaikum ….”

“Waalaikumsalaam …” terdengar jawaban di seberang sana yang ternyata istri Pak Dasril di kamar hotel.

“Alhamdulillah, sudah pulang, Bu? Bapak ada kan, Bu?”

“Nah,itu dia. Saya sudah kembali ke hotel tapi Bapaknya belum pulang.”

“Nah, Bapak kemana, Bu?”

“Saya juga nggak tahu. Bapak belum balik ke hotel dari semalem.”

“Masya Allah, Ibu juga nggak tahu Bapak ada di mana?”

“Nggak tahu.”

“Baik Bu, nanti saya telepon lagi, ya. Kita doakan semoga Bapak bisa kembali ke hotel dengan selamat, nggak nyasar.”

“Amiiin.”

Beberapa menit kemudian, kami menelepon lagi dan ternyata Pak Dasril belum juga datang. Sekitar pukul 10 pagi, kami menelepon lagi.

“Bu, Bapak sudah pulang belum?”

“Alhamdulillah, Bapak sudah datang.”

“Alhamdulillaaah,” kami menghela napas lega.

Malam harinya, setelah shalat isya, para jamaah makan bersama di restoran hotel. Kami penasaran ingin berbincang-bincang dengan Pak Dasril. karena sejak berangkat, Pak Dasril sering menghilang, sering menyendiri, dan jarang bergabung dengan jamaah yang lain. Beliau juga pendiam. Kami pun segan untuk menanyakan banyak hal. Namun, karena para jamaah sudah gelisah, akhirnya saya bertanya kepada pak Dasril.

“Pak Dasril, maaf, ini bukan hanya saya yang nanya, tapi juga mewakili jamaah yang lain.” saya membuka pembicaraan.

“Ada apa, Ustadz ?”

“Iya, Pak. sejak pertama, saya perhatikan kok Bapak sering menyendiri? Apakah ada masalah?”

“Oh iya, saya minta maaf, ya. Saya belum cerita sama Ustadz.” jawabnya spontan.

“Iya, Pak. Semalem, kami juga nyariin Bapak, mau ngajak bareng umrahnya, tapi Bapak nggak kelihatan. Sebenernya, ada apa ya, Pak?”

“Maaf, ya. Sebenernya, nggak ada apa-apa, kok.” ujarnya.

“Iya, tapi kami khawatir kalau Bapak nggak bisa kembali ke hotel, takut nyasar.” kata saya.

“Iya, saya minta maaf. Saya memang lagi pengen menyendiri di Masjidil haram, bukan berarti tidak mau bergabung dengan jamaah lainnya.”

“Iya, tapi kenapa, Pak?” kejar saya.

“Eeeh, karena saya sedang bernostalgia dengan Allah,” jawab Dasril lirih. Lalu, sambil sesenggukan, dia mengisahkan sejarah perjalanan hajinya dari hasil kopi.

“Masya Allah, saya dulu bukan siapa-siapa, saya adalah orang paling miskin di kampung saya. tapi Allah bisa berangkatkan saya ke Tanah Suci.” kenangnya. “Dan hari ini adalah hari spesial buat saya karena sejak pertama kali dulu bisa berangkat haji, baru sekarang saya bisa ke Mekah lagi. Makanya saya tidak menyia-nyiakan waktu ini. Saya bernostalgia dengan Allah SWT.”[]

Di sadur dari buku Haji Gratis, “Semua bisa ke Baitullah” (M. Anwar Sani dan Yusuf Mansur)

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *