“Adakah alasan untuk lebih layak?”

“Adakah alasan untuk lebih layak?”

(Judul terinspirasi oleh status WA kang Erick, Jamaah SYIAR 5 April 2017)

“Kang, kita ke mathof jam 02.00 yah” ujarku kepada kang Erick, menutup pembicaraan sebelum tidur. Saat itu sudah hampir jam 00.00. Saya dan Kang Erick memang baru saja sampai kamar hotel sekitar jam 23.00 setelah seharian beraktivitas di Masjidil Harom.

Hari-hari di Masjidil Harom, rupanya memang hari-hari kurang tidur. Entah kenapa “booster” untuk ibadah begitu kuat efeknya. Setiap saat rasanya ingin berada di Mathof untuk thowaf atau sekedar berdzikir sembari memandangi ka’bah yang berdiri tegak ditengah ratusan ribu para pemuja Sang Kholiq, Allah SWT.

Setiap orang ingin agar lima waktunya selalu di sana, kalau bisa bahkan tadarus, kajian pagi-sore, tahajjud, dhuha, sholat taubat, rawatib dan sholat-sholat sunnah lainnya juga inginnya dilakukan di sana. Belum lagi berburu tempat-tempat mustajab, untuk berdoa didalamnya. Oleh karenanya, mengatur waktu-waktu sarapan, makan siang dan malam ditengah-tengah aktivitas ibadah ini menjadi sangat penting.

Selama tiga hari di Mekkah, aktivitas kami memang banyak di Masjidil Harom, Hotel hanya tempat makan, dan istirahat sebentar. Tidur tidak lebih dari sekitar 3 jam ditambah rebahan badan sekitar setengah jam. Jam 02.00 kami keluar untuk thowaf, tahajjud, sholat subuh, koordinasi pagi bersama ustadz Rahmat hingga waktu dhuha. Sekitar jam 8 kami kembali ke hotel untuk sarapan dan mandi. Sebelum jam 11 kami sdh berada di mathof lagi utk thowaf dan mencari shaf terdepan agar setelah selesai sholat bisa langsung memegang rukun yamani atau masuk ke hijir Ismail untuk berdoa didalamnya. Setelah sholat dzhuhur kami kembali ke hotel untuk makan siang. Beruntung hotel kami tidak terlalu jauh jaraknya. Perjalanan sekali balik sekitar 10-20 menit tergantung kecepatan jalan.

Sebelum jam 14, kami biasanya sdh berada di Masjidil Harom lagi, kadang di Mathof atau di lantai 2 dan 3, sembari mencari shaf terdepan utk dapat memandangi Ka’bah, berdzikir sambil menunggu kumandang adzan.

Biasanya setelah sholat ashar, kami ikut kajian sore bersama ustadz Rahmat, sembari mengenal keliling ka’bah. Tempatnya berganti ganti, kadang di plataran di bawah jabal qubais, kadang di pelataran ke arah pintu masuk masjid.

Aktivitas di Masjidil Harom berlanjut hingga sholat maghrib dan isya, setelah itu barulah kita kembali ke hotel untuk makan malam dan istirahat. Biasanya waktu sudah menunjukkan pukul 8 atau 9 malam. Oleh karena itu, biasanya kami bawa qurma sebagai senjata menahan lapar. Untuk minum bagaimana? Tidak perlu khawatir karena air zam zam dengan mudah ditemui dimana-mana.

Kriiiing…alarm HP berbunyi. Ku buka layar HP menunjukkan jam 01.45. Setelah membaca hamdalah, bergegas berganti baju dan wudhu. Diseberang tempat tidur, ku lihat Kang Erick juga sdh bangun meski masih merebahkan tubuhnya dikasur yg sangat empuk itu.

“yuk, Kang, kita berangkat!”.ajakku kepada Kang Erick. Sebelum berangkat, kami menyempatkan melihat siaran langsung dari Masjidil Harom lewat TV yg kebetulan ada di kamar hotel, untuk memastikan apakah jam-jam segini, pelataran mathof sepi? Ternyata tidak juga. Masih banyak mereka yg thowaf di sana. MasyaAllah…jangan2 kami yang lalai ini, sampai sempat2nya tertidur pulas di atas kasur empuk hotel bintang 5 ini..😭😭😭

Dengan bergegas, kami berdua melangkah keluar hotel menuju mathof yg berjarak sekitar 300 m tersebut. Udara dingin tidak menghalagi semangat kami untuk thowaf malam itu. Setelah melewati pintu masuk King Abdul Aziz dan menuruni anak tangga, lagi2 perasaan takjub sekaligus haru tidak bisa kami sembunyikan. Hanya kebesaran dan puja puji nama Allah yg sanggup kami keluarkan. Air matapun tanpa terasa sudah sampai membasahi kedua pipi kami.

“Kang, sepertinya kita perlu bergandengan”, ujar Kang Erick kepada saya, membuyarkan tafakur saya. Maklum, sausana mathof masih sangat padat dan penuh meski waktu menunjuklan jam 02.30. Kalau kami tidak bergandengan, bisa sangat mungkin kami terpisah. “Yuk, kita niatkan thowaf“. Ajakku.

Malam itu, menjadi saksi bahwa persaudaraan iman telah menyatukan seluruh kaum muslimin disana. Bagi kami, malam itu jauh lebih berharga karena dalam bergandengan iman pula, kami berdua, melakukan ritual thowaf. Sungguh perasaan persaudaraan dalam keimanan begitu memuncak hadir saat itu. 😢😢😢

Tujuh putaran sdh kami lalui. “Kang, kita cari shaf terdepan yuks” Ajak Kang Erick yang langsung menarik gandengan tanganku. Kebetulan sekali, adzan subuh sebentar lagi berkumandang. Orang-orang yang thowaf pun sudah mulai membentuk shof utk sholat. Tanpa terasa kami sdh berada di shaf terdepan. Tepat di sisi antara pintu Ka’bah dan Hijr Ismail.

Sembari menunggu iqomah dikumandangkan, kami sempatkan sholat dua rokaat. Bersujud, bersimpuh, menangis, menyesali segala dosa dan maksiat yang telah dilakukan, dan berjanji tidak akan mengulangi maksiat yg sama…😭😭😭😭😭. Kami merasa malam itu adalah malam2 penuh pengalaman spiritual yg luar biasa bagi kami, karena Allah SWT telah izinkan hamba-hamba ini yg penuh maksiat, untuk bersimpuh di Rumah Nya yang begitu Agung. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kami…Aamiin.

“Semua orang pastinya ingin bersimpuh dan bersujud di depan Ka’bah, meminta ampunan diselingi tangis penyesalan. Namun, adakah alasan lain yg lebih kuat sehingga kita layak untuk berkunjung kesana? Yaa Rabb…Ridho-Mu, Ridho-Mu lebih ku harapkan dari sekedar tangisan itu. Maka Ridhoi lah kami , berkunjung ke Rumah Mu.”

Bandara Soeta, Menuju Bone dan Wajo,
14 November 2018

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *