Tangisan Pertama Ku

Tangisan Pertama Ku

(Oleh: dhyy, Jamaah SYIAR 5 April 2018)

Kalau ada pertanyaan, berapa kali aku menangis saat di madinah? jawabnya belasan kali. Tapi kalau ditanya kapan dan dimana tangisan pertamaku? Sebentar lagi akan ku ceritakan.

“Para tamu Allah yg dimuliakan oleh Allah SWT, saat ini kita telah masuk di tanah haram, maka perbanyaklah berdzikir dan hindari perkataan serta hati yang tidak baik” demikianlah kira2 pesan salah seorang di kursi depan bus kami, yang kemudian saya ketahui sebagai muthowif kami. Seketika, ada perasaan syukur yang tidak terhingga. Setelah membaca doa, kami mulai memperbanyak talbiyah.

Tepat jam 12 malam waktu madinah, kami sampai di hotel. Setelah sempat makan malam, dan meletakkan koper di kamar, kami langsung menuju masjid nabawi yg jaraknya hanya beberapa meter dari Hotel.

Meski lelah karena perjalanan jauh dari Turki, keinginan utk segera sholat di dalam masjid nabi sudah memuncah, tak bisa terbendung. Tidak ada kantuk, tidak ada lelah, aku harus segera kesana.

Kemas-kemas koper, ganti baju, segera ku turun melalui lift yg ukurannya tidak terlalu besar. Ternyata beberapa teman sdh menunggu di bawah.

MasyaAllah...begitu megahnya masjid nabi, dengan kubah bernuansa hijau yang khas, serta menara2 yang indah dengan lampu2nya. Seolah2 seperti magnet yang semakin menarikku untuk segera kesana.

Dengan langkah agak cepat, kami segera memasuki pelataran masjid nabi tepat dari arah sisi kanan sebelah barat. Semakin dekat mamasuki masjid semakin bergetar hati ini.

Setelah selesai sholat maghrib yg dijamak dengan Isya, kami berdzikir sebentar. “Tuh, air zam-zam disana, hayuk diminum.” Seru Ustadz Umar, yang langsung saya ikuti dengan pandangan mata saya. Sedikit malu-malu karena belum terbiasa dengan kondisi dalam masjid nabawi, ku langkahkan kaki mengambil segelas air zam zam dari tempatnya.

“Gluk..gluk… alhamdulillah…seger sekali air ini.” Batinku dalam hati. Segera ku ambil untuk yang kedua kalinya.

“Setelah ini kita akan ziarah ke makam Rosulullah, dan mengucapkan salam kepada Beliau SAW.” Seru Ustadz Rahmat, pembimbing Umroh kami yg spontan diikuti oleh kami.

Suasana masjid masih penuh dengan orang2 yg beribadah sehingga kami keluar dengan jalan yang tidak terlalu cepat. Sampai pada satu pintu besar, aku lihat orang-oramg bergegas memasuki pintu tersebut. Padat dan semua orang antri masuk satu persatu. Ku baca tulisan arab di atas pintu tersebut, berbunyai Baabusalaam.

Akupun akhir masuk berhimpit-himpitan bersama rombongan dan orang-orang yang terus memenuhi lorongnya. Entah mengapa semakin dalam aku melangkah semakin terasa gejolak di dada, seolah ada perasaan rindu yg entah kepada siapa. Ada perasaan seolah-olah kerinduan ini akan terobati karena akan bertemu dengan kekasih-Nya. Ah…semua perasaan ini tidak bisa diungkapkan.

Aku hanya mampu terus membaca sholawat kepada nabiku. Tapi perasaan ini terus bergejolak, semakin membuat sesak nafasku. Bukan karena sedang berhimpit-himpitan. Tapi karena ada gejolak yg luar biasa. Perasaan ini seolah olah melebihi perasaan seorang anak yang merindukan bertemu dengan orang tuanya. Lebih dari itu…lebih.

Aku sendiri tidak tahu, kenapa dada ini semakin sesak. Dan tetesan air mata sudah sampai di kedua pipiku..Ku lihat tak jauh di depanku, orang2 banyak mengucapkan salam, yang lantas aku ikuti.

“Assalamu’alaika yaa Rasulallah warahmatullahi wabarakatuh.”  air mataku menetes, ku ucapkan sekali lagi.

“Assalamu’alaika yaa Rasulallah warahmatullahi wabarakatuh.”  air mataku keluar semakin deras, lantas aku ucapkan sekali lagi. Karena aku rindu kepadamu yaaa Rosulullah...

“Assalamu’alaika yaa Rasulallah warahmatullahi wabarakatuh.” …

Dadaku pun semakin sesak, air mataku semakin deras, dan aku menangis sesegukan. Tepat di depanku adalah makam Rosulullah SAW. Orang mulia yang sangat mencintai umatnya.
Seolah-olah aku merasakan sosoknya yang mulia tengah terbaring dihadapanku.

Aku Menangis…yaah itulah pertama kalinya aku menangis di Madinah. Entah menangis karena apa akupun tak tahu. Ada rasa kangen, rindu atau kadang sedih karena aku masih jauh dari pantas untuk bisa bertemu dengan Rosulullah. “Yang jelas aku berjanji akan terus memantaskan diri ini untuk dapat bertemu denganmu kelak di Telagamu.” Tekadku dalam hati saat itu.

Itu memang tangisan pertamaku. Tapi Aku berharap itu bukan yg terakhirnya, karena kelak, aku berharap akan bisa kembali bertemu Rosulullah dalam keadaan tangisan bahagia dan mendapatkan syafa’atnya. Semoga Allah mengabulkan doa kita semuanya.

Rosulullah SAW bersabda:
Barangsiapa yang berziarah ke kuburku maka wajib baginya syafaatku.” (HR Tirmidzi, Daruqutni, Baihaqi, dan Al Barra)

Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan
(Sedang mati lampu di Hotel).
22.34 WITA
16 November 2018

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *